rampung
mungkin benar dugaanku mengenai amigdala mu, membenci dan pergi. ya, memang sudah sepantasnya aku mendapatkan itu, senang kau? jika keadilan sudah menimpaku?
sekarang kita, bukanlah menjadi kita lagi, bukanlah menjadi sepasang yang saling mencintai, sekarang kita sudah menjadi aku dan kamu yang terpisah, berjalan bersebrangan yang dibatasi dengan tembok yang kuat, tak bisa satu sama lain menggapai
saat aku memutuskan meninggalkanmu, aku sudah jelas memberi alasan, memberi sebab, aku berusaha bagaimana nanti hatimu tidak membenciku. tapi yang kuharapkan pun tidak bisa kugapai, ketika aku berusaha untuk dapat bibir ini mengatakan, memberi alasan yang jelas berulang kali kepadamu, yang entah mengapa kau selalu tidak mengerti atau bahkan kamu tidak terima?
dulu, aku menganggapmu seperti senja, indah, lalu pergi, dan keesokannya kembali lagi dengan indah pula. banyak orang mengatakan senja mirip sekali dengan si "dia", menurutku mereka salah, jika senja datang dengan indah, membuat penikmat nya jatuh sangat dalam saat menatapnya, dan pergi dengan perlahan dengan suasana yang tidak ingin ditinggalkan, namun keesokannya senja akan kembali yang lagi-lagi membuat penikmatnya membuat tersenyum. beda dengan si "dia" yang pergi disaat yang indah dan belum tentu keesokannya kembali.
namun sekarang, aku sudah tidak perlu menunggu senjaku, yang sekarang bukanlah senja milikku lagi,
pun kamu, senjaku, yang sekarang bukan lagi senja yang aku tunggu-tunggu, kau tak perlu datang lagi, memang itu kan kemauanmu setelah ingin mendapatkan keadilan?
benar ternyata, jangan ingin ada rasa memiliki, karena kalau sesuatu yang ingin dimiliki itu hilang, kau akan marah, memang seharusnya ingin ada rasa tertitipi, biar jika semesta merubah alurnya kau akan ikhlas menerimanya.
salam sayang, dengan aku yang sudah tidak menunggu senja itu.
sekarang kita, bukanlah menjadi kita lagi, bukanlah menjadi sepasang yang saling mencintai, sekarang kita sudah menjadi aku dan kamu yang terpisah, berjalan bersebrangan yang dibatasi dengan tembok yang kuat, tak bisa satu sama lain menggapai
saat aku memutuskan meninggalkanmu, aku sudah jelas memberi alasan, memberi sebab, aku berusaha bagaimana nanti hatimu tidak membenciku. tapi yang kuharapkan pun tidak bisa kugapai, ketika aku berusaha untuk dapat bibir ini mengatakan, memberi alasan yang jelas berulang kali kepadamu, yang entah mengapa kau selalu tidak mengerti atau bahkan kamu tidak terima?
dulu, aku menganggapmu seperti senja, indah, lalu pergi, dan keesokannya kembali lagi dengan indah pula. banyak orang mengatakan senja mirip sekali dengan si "dia", menurutku mereka salah, jika senja datang dengan indah, membuat penikmat nya jatuh sangat dalam saat menatapnya, dan pergi dengan perlahan dengan suasana yang tidak ingin ditinggalkan, namun keesokannya senja akan kembali yang lagi-lagi membuat penikmatnya membuat tersenyum. beda dengan si "dia" yang pergi disaat yang indah dan belum tentu keesokannya kembali.
namun sekarang, aku sudah tidak perlu menunggu senjaku, yang sekarang bukanlah senja milikku lagi,
pun kamu, senjaku, yang sekarang bukan lagi senja yang aku tunggu-tunggu, kau tak perlu datang lagi, memang itu kan kemauanmu setelah ingin mendapatkan keadilan?
benar ternyata, jangan ingin ada rasa memiliki, karena kalau sesuatu yang ingin dimiliki itu hilang, kau akan marah, memang seharusnya ingin ada rasa tertitipi, biar jika semesta merubah alurnya kau akan ikhlas menerimanya.
salam sayang, dengan aku yang sudah tidak menunggu senja itu.

Komentar
Posting Komentar